Jakarta, CNBC Indonesia – Kepala Center of Digital Economy and SMEs Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha Maghfiruha Rachbini menilai Indonesia ke depannya akan sulit mempertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar 5%. Hal ini seiring dengan risiko ketidakpastian global yang cukup berat.

Eisha mengungkapkan IMF sudah beberapa kali lakukan revisi outlook pertumbuhan ekonomi global yang pada implementasinya tidak dapat diketahui konflik perang kapan berakhir. Pertumbuhan ekonomi karenanya dilakukan revisi beberapa kali menjadi sebesar 3,2 %.

Ekonomi negara-negara maju dengan risiko domestik sudah berlalu berpotensi tumbuh dari 1,6 % menjadi 1,7% PDB. Sementara itu, emerging market yang sebelumnya menjadi tumpuan pertumbuhan global, diprediksi menurun pertumbuhannya dari 4,3% ke 4,2 %.

“Indonesia, sempat stay di 5% moderat, namun ke depan harus berhati-hati diperkirakan tumbuh di bawah 5%. Dan nampaknya untuk tumbuh di 5% akan kesulitan,” ujar Eisha, dalam diskusi virtual, dikutip Senin (22/4/2024).

Eisha menilai Inflasi dalam negeri cenderung volatile, karena dan El Nino yang mendorong harga bahan pokok meningkat. Namun, inflasi masih bisa dikendalikan dan bertahan di 2,61% pada 2023. Namun, dia melihat ada tren peningkatan di 2024.

“Konflik perang di Timur Tengah dan Rusia Ukraine akan berdampak pada tekanan harga barang-barang input dan rupiah terdepresiasi dan jadi salah satu tekanan inflasi. Inflasi diperkiran masih bisa dikendalikan ke depan,” kata Eisha.

Dampak konflik Rusia – Ukraine mendorong harga-harga komoditas dan energi. Dia menegaskan perang Israel – Hamas dan Iran dampaknya pasti akan berpengaruh pada harga-harga komoditas global. Harga emas jadi melonjak sangat tinggi. Pasalnya, emas salah satu safe haven dari dolar AS.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan risiko tidak hanya berupa kehancuran infrastruktur atau perang, tapi ada ketegangan yang terjadi antara China – AS berupa upaya pengambil alihan posisi power di tingkat global. Dampaknya akan muncul pada supply global, logistik dan dampak terhadap perekonomian domestik.

“Dari situ akan ada supply shock dari sisi produsen karena ada alur logistik yang lebih panjang dan lama akibat pengalihan jalur trade maritime akibat konflik dan keamanan jalur laut. Akibatnya, terjadi arus supply chain yang terputus,” kata Eisha.

Dia pun menilai kondisi ini mempengaruhi industri manufaktur yang terhambat inputnya, terjadi kelangkaan dan bisa menjadikan kenaikan harga-harga komoditas menjadi sangat tinggi. Apalagi Indonesia sebagai negara importir bahan baku yang industrinya akan menanggung struktur biaya amat tinggi dari risiko geopolitik global risk tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Katanya Ekonomi Bagus, Rakyat Sulit Sampai Makan Tabungan?


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *